Langsung ke konten utama

Subartono Kader HPMKS; Dinas Perhubungan selayar Tidak Tegas Mengambil Tindakan

 


Kendaraan roda empat yang diparkir depan asrama DPC HPMKS Kepulauan Selayar menyebabkan salah satu siswa asrama mengalami kecelakaan.

Salah satu Kader HPMKS atas nama subartono ketua DPW LGS Sulsel sangat menyesalkan tindakan pengguna mobil yang parkir sembarangan menyebabkan kecelakaan salah satu adek adek di asrama ketika ingin pergi sekolah dan bentuk kelalaian dinas perhubungan.

"Kendaraan Beroda empat yang parkir di depan asrama DPC HPMKS diketahui persis oleh pemilik mobil itu merupakan area larangan parkir karena akan menyebabkan rawan kecelakaan untuk adek adek asmara ketika keluar dari asrama," kata Subartono.

Tambahnya Subartono, saya melihat hari ini Dinas perhubungan lalai dan tidak tegas dalam mengambil tindakan dalam penanganan hal tersebut sehingga pemilik mobil masih sewenang-wenang parkir didekat pintu keluar masuk asrama sehingga terjadi insiden kecelakaan terhadap Adek adek asrama ketika ingin kesekolah, pada saat saya terima laporan dari salah satu adek adek asrama mengenai insiden tersebut.


Dinas perhubungan sepantasnya menerapkan aturan yang berlaku dalam penindakan terhadap yang parkir kendaraan sembarangan.

Dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Parkir sembarangan dapat dikenakan Pasal 287 ayat (1), melanggar rambu-rambu atau marka dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling lama Rp 500.000.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngopi; Sudahkah Kita Mengartikannya

Foto bersama Andi Agus (penulis novel perisai permata dua) dari selayar. Sudahkah ngopi hari ini?, Pertanyaan yang tidak lazim kita dengar dan kita baca lewat pesan singkat di Wa, FB, dan IG serta media sosial yang lain yang dilontarkan oleh remaja maupun kalangan orang tua. Ngopi bukan hanya kegiatan meminum kopi, banyak makna dan hikmah kita temukan.  Mungkin setiap orang mentafsirkan dalam sudut pandang yang berbeda-beda. Mungkin saya dalam mengartikan ngopi berbeda dengan kalian. Jadi perbedaan dalam penafsiran tentang ngopi akan saya sampaikan, dimana saya akan bahas dalam beberapa pendekatan, yaitu: 1. Segi sosial ,  Belakangan ini banyak tempat nongkrong ngopi yang sudah menjadi tren di zaman sekarang yang disebut kedai kopi. Kedai kopi merupakan tempat bagi orang-orang yang suka ngopi.  Tentu bukan hanya itu tetapi sebagai tempat untuk bercengkrama dengan teman-teman yang sekarang dan teman lama, apel bersama pasangan, dan melobi seseorang maupun kolega. Ha...

Ditipu Milyaran Rupiah, Laporan Rasman Alwi Tak Mempan di Polisi

Jelajah98, Selayar - Dugaan Pemalsuan Surat Tanah yang dilaporkan oleh Rasman Alwi pada bulan Februari Tahun 2020 lalu, sampai saat ini belum ada kejelasan dan kepastian hukum.  Saat itu juga, Rasman Alwi melaporkan Alfian Pramana pada Tanggal 10 September Tahun 2019 atas dugaan penipuan sebesar kurang lebih Tiga (3) Miliar. Pemalsuan Akta Autentik, laporan Polisi Nomor : LP/24/II/2020/SULSEL/RES.KEP.SLYR tanggal 11 Februari 2020 yang diduga dilakukan oleh Tersangka Sarbini dan oknum Notaris Muh Ridwan Zainuddin selaku Notaris pembuat akta panjar dan pelunasan. Dari uang Rp 800 juta yang ditransfer oleh Alfian Pratama masuk ke Rekening tanpa sepengetahuan Rasman Alwi sebagai panjar pembayaran tanah. "Saya ketahui bahwa ada uang masuk ke rekening saya setelah saya di telpon dan di WA oleh Kapolres Selayar saat itu dijabat oleh AKBP Syamsu Ridwan, S.IK. Padahal saya tidak mengenal Alfian Pramana. Kemudian saya diperintahkan uang tersebut ditarik dan diminta di bawa ke ruangannya pad...

Racun Fatalisme di Balik Kalimat Rezeki Sudah Ada Yang Atur

Kalimat "rezeki sudah ada yang atur" seringkali terdengar di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagai ajaran yang berasal dari keyakinan agama dan budaya, kalimat ini seharusnya membawa kedamaian hati dan kesadaran akan kuasa yang lebih tinggi. Namun, di balik makna yang mulia tersebut, terkadang tersembunyi racun fatalisme yang bisa menghambat pertumbuhan individu dan kemajuan masyarakat. Fatalisme yang berkembang dari pemahaman keliru akan kalimat tersebut membuat sebagian orang beranggapan bahwa segala sesuatunya sudah ditentukan secara mutlak, sehingga tidak perlu berusaha atau berbuat apa-apa. Mereka menganggap bahwa usaha dan kerja keras tidak akan berpengaruh terhadap jumlah atau jenis rezeki yang akan diterima. Akibatnya, mereka malas untuk mencari pekerjaan, tidak mau meningkatkan keterampilan diri, bahkan enggan mengambil langkah konkret untuk mengubah kondisi hidup yang kurang baik. Padahal, dalam ajaran agama yang kita anut, rezeki yang sudah diatur adalah hasil dar...