Langsung ke konten utama

3,5 Milyar Dana Desa di Kemanakan?


Kepala Desa Sebagai pemimpin siap menerima kritikan dan saran dari masyarakat.

Serta melakukan dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab yg telah diamanahkan dengan kemampuan yg ada..

Dan berharap Kepala Desa bekerja dengan penuh tangggung jawab, benar, jujur, cerdas, iklas dan serta tuntas adil dan tidak pilih kasih..

Yang lebih penting Jangan terlena dengan Dana Desa, pergunakanlah untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat.

Kepala Desa harus transparan sesuai dengan. UU DESA dan UU KIP yang diamanatkan keterbukaan Desa. Menurut ketentuan pasal 24 huruf d UU Desa No 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Menyatakan bahwa salah satu asas penyelenggaraan Pemerintahan adalah Keterbukaan.

Keterbukaan membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yg benar, jujur dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan Pemerintah Desa dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang undangan.

Ditegaskan kembali pada pasal 26 ayat (4) dalam menjalankan tugas kepala desa berkewajiban untuk" Huruf f " Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yg Akuntabel, Transparan, Profesional, Efektif bersih serta bebas dari Kolusi, Korupsi, dan Nipotisme, dan Huruf p memberikan informasi kepada masyarakat desa.

Begitu juga, sejalan dengan amanat UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa, asas keterbukaan badan publik telah diamanatkan dalam UU No 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik ( KIP ). menjamin masyarakat untuk mengetahui dan memperoleh informasi publik, dalam rangka mewujudkan peran serta aktif masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngopi; Sudahkah Kita Mengartikannya

Foto bersama Andi Agus (penulis novel perisai permata dua) dari selayar. Sudahkah ngopi hari ini?, Pertanyaan yang tidak lazim kita dengar dan kita baca lewat pesan singkat di Wa, FB, dan IG serta media sosial yang lain yang dilontarkan oleh remaja maupun kalangan orang tua. Ngopi bukan hanya kegiatan meminum kopi, banyak makna dan hikmah kita temukan.  Mungkin setiap orang mentafsirkan dalam sudut pandang yang berbeda-beda. Mungkin saya dalam mengartikan ngopi berbeda dengan kalian. Jadi perbedaan dalam penafsiran tentang ngopi akan saya sampaikan, dimana saya akan bahas dalam beberapa pendekatan, yaitu: 1. Segi sosial ,  Belakangan ini banyak tempat nongkrong ngopi yang sudah menjadi tren di zaman sekarang yang disebut kedai kopi. Kedai kopi merupakan tempat bagi orang-orang yang suka ngopi.  Tentu bukan hanya itu tetapi sebagai tempat untuk bercengkrama dengan teman-teman yang sekarang dan teman lama, apel bersama pasangan, dan melobi seseorang maupun kolega. Ha...

Ditipu Milyaran Rupiah, Laporan Rasman Alwi Tak Mempan di Polisi

Jelajah98, Selayar - Dugaan Pemalsuan Surat Tanah yang dilaporkan oleh Rasman Alwi pada bulan Februari Tahun 2020 lalu, sampai saat ini belum ada kejelasan dan kepastian hukum.  Saat itu juga, Rasman Alwi melaporkan Alfian Pramana pada Tanggal 10 September Tahun 2019 atas dugaan penipuan sebesar kurang lebih Tiga (3) Miliar. Pemalsuan Akta Autentik, laporan Polisi Nomor : LP/24/II/2020/SULSEL/RES.KEP.SLYR tanggal 11 Februari 2020 yang diduga dilakukan oleh Tersangka Sarbini dan oknum Notaris Muh Ridwan Zainuddin selaku Notaris pembuat akta panjar dan pelunasan. Dari uang Rp 800 juta yang ditransfer oleh Alfian Pratama masuk ke Rekening tanpa sepengetahuan Rasman Alwi sebagai panjar pembayaran tanah. "Saya ketahui bahwa ada uang masuk ke rekening saya setelah saya di telpon dan di WA oleh Kapolres Selayar saat itu dijabat oleh AKBP Syamsu Ridwan, S.IK. Padahal saya tidak mengenal Alfian Pramana. Kemudian saya diperintahkan uang tersebut ditarik dan diminta di bawa ke ruangannya pad...

Racun Fatalisme di Balik Kalimat Rezeki Sudah Ada Yang Atur

Kalimat "rezeki sudah ada yang atur" seringkali terdengar di kalangan masyarakat Indonesia. Sebagai ajaran yang berasal dari keyakinan agama dan budaya, kalimat ini seharusnya membawa kedamaian hati dan kesadaran akan kuasa yang lebih tinggi. Namun, di balik makna yang mulia tersebut, terkadang tersembunyi racun fatalisme yang bisa menghambat pertumbuhan individu dan kemajuan masyarakat. Fatalisme yang berkembang dari pemahaman keliru akan kalimat tersebut membuat sebagian orang beranggapan bahwa segala sesuatunya sudah ditentukan secara mutlak, sehingga tidak perlu berusaha atau berbuat apa-apa. Mereka menganggap bahwa usaha dan kerja keras tidak akan berpengaruh terhadap jumlah atau jenis rezeki yang akan diterima. Akibatnya, mereka malas untuk mencari pekerjaan, tidak mau meningkatkan keterampilan diri, bahkan enggan mengambil langkah konkret untuk mengubah kondisi hidup yang kurang baik. Padahal, dalam ajaran agama yang kita anut, rezeki yang sudah diatur adalah hasil dar...